Laman

Kamis, 22 Desember 2011

sabun dan detergent

BAB 1
SABUN
1.1            PENDAHULUAN

Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh. Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asam miristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng adalah asam oleat, asam linoleat, dan asam linolena. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).

Sabun yang banyak mengandung busa, terutama pada sabun cair yang terbuat dari minyak kelapa atau kopra ini biasanya menyebabkan rangsangan dan memungkinkan penyebab dermatitis bila dipakai. Oleh karena itulah penggunaanya diganti dengan minyak zaitun dan minyak kacang kedele atau minyak yang lain yang dapat menghasilkan sabun lebih lembut dan baik. Tetapi para pemakai kurang menyukainya sebab sabun ini kelarutannya rendah dan tidak memberikan busa yang banyak. Dengan perkembangan yang cukup pesat dalam dunia industri dimungkinkan adanya penambahan bahan-bahan lain kedalam sabun sehingga menghasilkan sabun dengan sifat dan kegunaan baru.

1.2            BAHAN BAKU
             
              Bahan baku adalah bahan utama yang digunakan dengan persentase komposisi terbesar yang membentuk bagian integral dari suatu produk jadi. Bahan baku untuk pembuatan sabun adalah :
·         Minyak
            Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus   dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya :
  1. Tallow. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas 40°C. Tallow dengan titer di bawah 40°C dikenal dengan nama grease.
  2. Lard. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~ 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.
  3. Palm Oil (minyak kelapa sawit). Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya.
  4. Coconut Oil (minyak kelapa). Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat.
  5. Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit). Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa.
  6. Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin). Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin.
  7. Marine Oil. Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
  8. Castor Oil (minyak jarak). Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan.
  9. Olive oil (minyak zaitun). Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.
  10. Campuran minyak dan lemak. Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.


·         Alkali
     Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
    Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.

Bahan Tambahan    
               Bahan Tambahan adalah bahan yang digunakan dalam membantu kelancaran proses produksi dan bahan ini termasuk bagian dari produk. Adapun bahan tambahan yang digunakan adalah sebagai berikut:
·            Parfum
        Fungsi : Sebagai pemberi aroma pada sabun
·            Pewarna
Fungsi : Sebagai pembentuk warna pada sabun
·            Vaselin / petroleum
Fungsi : Sebagai pelembab pada sabun
·            Sodium Silikat
·            TCC (Three Chloro Carbon) dan Irgasan
Fungsi : Sebagai anti bakteri pada sabun kesehatan

Bahan Penolong
Bahan penolong adalah bahan yang digunakan secara tidak langsung dalam produk dan bukan merupakan komposisi produk, tetapi digunakan sebagai pelengkap produk. Adapun yang menjadi bahan tambahan antara lain :
·         Water (H2O)
Fungsi : Sebagai kebutuhan proses untuk pengenceran

Produk
Pada proses pembuatan sabun terdapat produk utama dan produk samping, produk utamanya adalah sabun dan produk sampingannya adalah gliserin, yang merupakan hasil dari hidrolisis lemak oleh air.

1.3              SIFAT FISIK DAN KIMIA BAHAN BAKU DAN PRODUK
1.       Minyak
     Minyak/lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang (± 28°C), sedangkan lemak akan berwujud padat.
     Minyak tumbuhan maupun lemak hewan merupakan senyawa trigliserida. Trigliserida yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun memiliki asam lemak dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 18. Asam lemak dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 akan menimbulkan iritasi pada kulit, sedangkan rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun menjadi keras dan sulit terlarut dalam air. Kandungan asam lemak tak jenuh, seperti oleat, linoleat, dan linolenat yang terlalu banyak akan menyebabkan sabun mudah teroksidasi pada keadaan atmosferik sehingga sabun menjadi tengik. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.

2.             Alkali
Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya hanya Natrium Hidroksida
rumus molekul                                     : NaOH
berat molekul                           : 39.99711 g/mol
wujud                                      : padatan putih           
Density                                    : 2.13 g/cm3
titik leleh                                 : 318 °C, 591 K, 604 °F
titik didih                                 : 1388 °C, 1661 K, 2530 °F
kelarutan dalam air                  : 1110 g/L (20 °C)
kelarutan dalam etanol             : 139 g/L
kelarutan dalam  methanol       : 238 g/L
index bias (nD)                         : 1.412

1.4              DATA KUANTITATIF
a.       Basis : 1 ton sabun anhidrat
Minyak dan lemak :50 %
NaOH :1.1 ton
Sodium silikat : 0.3 ton
Air : 0.8 ton
Steam : 1.5 ton
b.         Kapasitas industri : 2 – 15 ton/days

1.5              REAKSI KIMIA

Reaksi 1 (Pemisahan lemak)
(RCOO)3C3H5 + 3H2O à 3RCOO.H + C3H5(OH)3
triglyceride                                         fatty acid : glycerine
Reaksi 2 (Safonifikasi)
R.COO.H + MOH à RCOO.M + H2O
           Dimana M adalah unsure K atau Na


1.6              KLASIFIKASI PROSES
Sabun dapat dibuat melalui proses batch atau kontinu.
a.       Pada proses batch, lemak atau minyak dipanaskan dengan alkali (NaOH atau KOH) berlebih dalam sebuah ketel. Jika penyabunan telah selesai, garam garam ditambahkan untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengaundung garam, gliserol dan kelebihan alkali dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan. Endapan sabun gubal yang bercampur dengan garam, alkali dan gliserol kemudian dimurnikan dengan air dan diendapkan dengan garam berkali-kali. Akhirnya endapan direbus dengan air secukupnya untuk mendapatkan campuran halus yang lama-kelamaan membentuk lapisan yang homogen dan mengapung. Sabun ini dapat dijual langsung tanpa pengolahan lebih lanjut, yaitu sebagai sabun industri yang murah. Beberapa bahan pengisi ditambahkan, seperti pasir atau batu apung dalam pembuatan sabun gosok. Beberapa perlakuan diperlukan untuk mengubah sabun gubal menjadi sabun mandi, sabun bubuk, sabun obat, sabun wangi, sabun cuci, sabun cair dan sabun apung (dengan melarutkan udara di dalamnya).

b.      Pada proses kontinu, yaitu yang biasa dilakukan sekarang, lemak atau minyak hidrolisis dengan air pada suhu dan tekanan tinggi, dibantu dengan katalis seperti sabun seng. Lemak atau minyak dimasukkan secara kontinu dari salah satu ujung reaktor besar. Asam lemak dan gliserol yang terbentuk dikeluarkan dari ujung yang berlawanan dengan cara penyulingan. Asam-asam ini kemudian dinetralkan dengan alkali untuk menjadi sabun.

Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5.


1.7              DIAGRAM ALIR
Continous process for fatty acid, soap and detergen

1.8              URAIAN PROSES
Dari diagram alir di atas, maka dapat diuraikan proses pembuatan sabun, yaitu sebagai berikut :
Bahan baku berupa trigliserin masuk ke dalam kolom hidrolizer dengan penambahan katalis ZPO, akan terjadi proses hidrolisis dengan ditambahkannya uap air panas yang masuk pada suhu 230-250°C dan tekanan 40-45 atm, sehingga trigliserin terpisah menjadi asam lemak dan triglserin. Reaksi yang terjadi yaitu :
(RCOO)3C3H5 + 3H2O à 3RCOO.H + C3H5(OH)3
Asam lemak yang terbentuk lalu dimasukkan ke dalam flash tank agar suhunya turun dan asam lemak yang dihasilkan menjadi lebih pekat, kemudian dimasukkan ke kolom high vacuum still hingga proses destilasi, pada proses ini asam lemak akan menguap sedangkan zat yang tidak diharapkan akan keluar melalui bawah kolom.
Uap asam lemak yang terbentuk kemudian dilewatkan ke dalam cooler sehingga dihasilkan asam lemak yang berbentuk pasta murni lalu produk ini disimpan dalam holding tank.
Pada proses pembuatan sabun, bahan baku merupakan lemak yang dipompakan ke dalam mixer, lalu ditambahakn NaOH dan diaduk dengan kecepatan tinggi sehingga terjadi proses saponifikasi atau penyabunan. Reaksi yang terjadi adalah :

R.COO.H +NaOH à RCOO.Na + H2O

Lalu dimasukkan ke dalam blender dengan kecepatan rendah agar campuran homogeny, Pada blender terjadi pencampuran dengan bahan-bahan lain yang dibutuhkan, seperti parfum, TCC, dan sebagainya. Kemudian produk sabun telah jadi, dan untuk finishing diteruskan dengan dipompa melalui jalur dipanaskan ke bar sabun untuk sabun batangan dengan menggunakan tekanan, untuk menghasilkan detergen menggunakan  pengering semprot sehingga diperoleh sabun berupa serbuk atau bubuk , dan untuk sabun cair yang dikeluarkan dari bagian bawah alat secara langsung kemudian diikuti dengan operasi pengemasan.

1.9              KEGUNAAN PRODUK

Sabun berfungsi sebagai bahan pembersih, dalam penggunaannya sesuai dengan jenis sabun itu sendiri, yaitu :
a.     Sabun mandi, digunakan untuk membersihkan tubuh ketika mandi
b.    Sabun cuci batangan, dapat juga digunakan untuk mencuci pakaian dan barang lainnya
c.     Sabun colet, digunakan untuk mencuci berbagai peralatan rumah tangga

1.10       FUNGSI ALAT
a.       Hidrolizer dugunakan sebagai tempat terjadinya reaksi antara asam lemak dengan air.
b.      High Vacuum still digunakan untuk penampungan bahan dengan tekanan vakum agar diperoleh uap dari bagian top alat.
c.       Kondensor digunakan untuk proses pendinginan bahan.
d.      Pompa digunakan untuk mengalirkan zat ke dalam wadah tertentu dengan cara tekanan.
e.       Steam flash Tank dihunakan untuk pemanasan dengan tekanan uap yang tinggi.
f.       Holding tank digunakan untuk tempat penampungan hasil kondensasi asam lemak yang masih belum murni yang akan dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sabun dan detergen.
g.      Mixer digunakan sebagai tempat pencampuran dalam sistem emulsi sehingga menghasilkan suatu dispersi yang homogen.
h.      Blender digunakan sebagai tempat untuk memperhalus ukuran partikel agar sesuai dengan yang diinginkan.

1.11       KESIMPULAN DAN SARAN
kesimpulan
1.      Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi saponifikasi. Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat. Hidrolisis ester dalam suasana basa bisa disebut juga saponifikasi.
2.      Bahan dasar pembuatan sabun secara sederhana adalah dengan memanaskan campuran antara lemak/minyak dengan alkali (basa).
3.      Metoda metoda proses pembuatan sabun ini ada duia macam yaitu metoda batch dan metoda kontinu.
4.      Selain bahan baku sabun minyak/lemak dan alkali, pada sabun juga ditambahkan pewarna dan parfum agar sabun lebih bersifat ekonomis.



Saran
Demikianlah makalah tentang proses pembuatan sabun ini dibuat, untuk mendukung ataupun untuk memperbaiki makalah ini diperlukan saran saran yang bersifat membangun sehingga nantinya makalah ini menjadi lebih bagus dan sempurna.


DAFTAR PUSTAKA

·         Dewi, Erwana.2009.Proses Industri Kimia.Palembang:POLSRI
·         T.M. Cook dan D.J. Cullen. 1986. Industri Operasi Kimia. PT. Gramedia; Jakarta
·         Handojo Lienda,dkk. 1995. Teknologi Kimia. PT.Pradnya Paramita; Jakarta
·         www.wikipedia.org/wiki/sabun




BAB II
DETERGEN
1.1         PENDAHULUAN
Detergen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, detergen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air. Produk yang disebut deterjen ini merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan produk terdahulu yaitu sabun, deterjen mempunyai keunggulan antara lain mempunyai daya cuci yang lebih baik serta tidak terpengaruh oleh kesadahan air.
Perbedaan sabun dan deterjen
Sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah.
Sabun itu merupakan garam dari asam karboksilat ( asam alkanoat ). Asam karboksilat memiliki struktur umum CnH2nO2, contohnya cuka, C2H4O2. Asam karboksilat bereaksi dengan basa membentuk garam. Rantai karbon yang panjang itu bersifat non-polar dan tidak menarik air, sementara “kepala”nya ( terdapat ion logam ) bersifat polar. rantai/ekornya itu disebut bagian hidrofobik sementara kepalanya disebut hidrofilik.
Sementara, deterjen tidak terbuat dari garam karboksilat sementara sabun terbuat dari garam karboksilat. kalau tidak salah, deterjen terbuat dari bahan-bahan yang sukar diuraikan mikroorganisme sementara sabun dapat diuraikan mikro-organisme.
1.2    BAHAN BAKU
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan detergen yaitu :
a.       Surfaktan (surface active agen)
b.      Builder (Pembentuk)
c.       Filler (Pengisi)
d.      Additives (Zat Tambahan)
1.3    SIFAT FISIK DAN KIMIA BAHAN BAKU DAN PRODUK
1.    Surfaktan (surface active agen)
     Zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hydrophile (suka air) dan hydrophobe (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan.
    Jenis – jenis surfaktan :
·  Surfaktant yang berupa anionic (Alkyl Benzene Sulfonate/ABS, Linier Alkyl Benzene Sulfonate/LAS, Alpha Olein Sulfonate/AOS, Fatty Alcohol Sulfonat).
·  Kationik (Garam Ammonium)
·  Non ionik (Nonyl phenol polyethoxyle)
·  Amfoterik (Acyl Ethylenediamines).
    
2.    Suds Regulator (Pengatur Busa)
Bahan ini digunakan untuk membantu surfactant dalam proses pencucian. Jenis bahannya yaitu asam lemak

3.    Builder (Pembentuk)
                   Zat yang berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air. Jenis bahan :
·  Phosphates (Sodium Tri Poly Phosphate/STPP)
·  Asetat (Nitril Tri Acetate/NTA, Ethylene Diamine Tetra  Acetate/EDTA)
·  Silikat (Zeolit)
·  Sitrat (asam sitrat).

4.    Filler (Pengisi)
     Bahan tambahan deterjen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas atau dapat memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga. Contoh : Sodium sulfate

5.    Additives (Zat Tambahan)
     Bahan suplemen/ tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dan sebagainya yang tidak berhubungan langsung dengan daya cuci deterjen. Additives ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk.
Contoh :
·      Enzyme, Borax, Sodium chloride, Carboxy Methyl Cellulose (CMC) dipakai agar kotoran yang telah dibawa oleh deterjent ke dalam larutan tidak kembali ke bahan cucian pada waktu mencuci (anti redeposisi). Wangi – wangian atau parfum dipakai agar cucian berbau harum, sedangkan air sebagai bahan pengikat.
·      Natrium Silicate digunakan untuk mencegah terjadinya korosi
·      Carboxyl Merthyl Cellulose (CMC) anti redeposisi agent.
·      Benzotrizole menghambat noda dan bercak
·      Bluings dari jenis peroxygen, pemutih (Carbonilides, salycyl anilides, sebagai anti microbial agent)
1.4    DATA KUANTITATIF
a.      Basis : 1 ton sabun anhidrat
   Minyak dan lemak :1.1 ton
   50 % NaOH :1.1 ton
   Sodium silikat : 0.3 ton
   Air : 0.8 ton
   Steam : 1.5 ton
b.      Kapasitas industri : 2 – 15 ton/days
1.5    REAKSI KIMIA
Alkylbenzene + Oleum -----> Alkylbenzene sulphonate + sulfuric acid
1.6 KLASIFIKASI PROSES
Proses pembuatan detergen meliputi :
a.       Safonifikasi
Pada proses ini minyak yang sudah dipucatkan (bleaching) dicampur dengan NaOH, kemudian dipanaskan dan diaduk sehingga terjadi tahap-tahap berikut:
1.      Tahap periode inkubasi lambat
2.      Tahap eksotermik cepat
3.      Tahap penyelesaian (completion)
Safonifikasi dianggap selesai jika terbentuk sabun yang kental, kemudian ditambah garam kering supaya terjadi pemisahan antara sabun padat dan alkali.
                        Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C-12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai pendek jarang digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa suatu ester dengan alkali (NaOH, KOH),
b.      Pencucian
Untuk memisahkan sisa gliserol dalam sabun dilakukan dengan cara menambahkan air garam panas (85°C) pada sabun.
c.       Fitting
Sabun yang didapatkan setelah mengalami pencucian selanjutnya mengalami pemanasan dan penambhan air sedikit demi sedikit sehingga didapatkan bentuk yang dikehendaki. Penentuan menggunakan “trowel test.” Setelah penyabunan lengkap, lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dari gliserol dipulihkan dengan penyulingan. Gliserol digunakan sebagai pelembab dalam tembakau, industri farmasi dan kosmetik. (Sifat kelembaban timbul dari gugus-gugus hidroksil yang dapat berikatan hidrogen dengan air dan mencegah penguapan air itu). Sabunnya dimurnikan dengan mendidihkan dalam air bersih untuk membuang lindi yang berlebih, NaCl dan gliserol. Zat tambahan (additive) seperti batu apung, zat warna dan sparfum kemudian ditambahkan. Sabun padat lalu dilelehkan dan dituang ke dalam suatu cetakan.


1.6    DIAGRAM ALIR
Proses Pembuatan Deterjen

1.7    URAIAN PROSES
·         Sulfonasi
Alkilbenzen ini diperkenalkan terus menerus ke sullfonator dengan jumlah yang diperlukan dari oleum. Suhu harus dijaga sekitar 55C. Lemak alkohol lemak dan oleum lebih banyak dimasukkan ke dalam campuran tersulfonasi mixture.The kemudian dipompa ke sulfater (juga harus beroperasi arroun50-55C)
·         penetralan
Produk tersulfonasi-sulfat adalah dinetralkan dengan larutan NaOH bawah suhu dikontrol untuk mempertahankan fluiditas dari bubur surfaktan. Bubur surfaktan dilakukan untuk penyimpanan.
Uraian proses
Bubur surfaktan, tripolyphostphate natrium dan sebagian besar aditif lain-lain dimasukkan ke dalam Crutcher. Sejumlah besar air akan dihapus dan paste dikentalkan oleh reaksi natrium tripolyphostphate hidrasi.
Campuran dipompa ke lantai atas di mana ia disemprotkan di bawah tekanan tinggi ke dalam menara semprot 24m tinggi, bertentangan dengan udara panas dari tungku. Butiran kering dari bentuk dan ukuran diterima dan kepadatan yang cocok terbentuk. Granul kering dipindahkan ke lantai atas dengan kehidupan udara yang mendingin mereka dari 115C dan menstabilkan butiran. Mereka kemudian dipisahkan dalam angin topan, disaring, wangi dan dikemas.
1.8    KEGUNAAN PRODUK
Awalnya deterjen dikenal sebagai pembersih pakaian, namun kini meluas dalam bentuk produk-produk seperti:
§  Personal cleaning product, sebagai produk pembersih diri seperti sampo, sabun cuci tangan, dll.
§  Laundry, sebagai pencuci pakaian, merupakan produk deterjen yang paling populer di masyarakat.
§  Dishwashing product, sebagai pencuci alat-alat rumah tangga baik untuk penggunaan manual maupun mesin pencuci piring.
§  Household cleaner, sebagai pembersih rumah seperti pembersih lantai, pembersih bahan-bahan porselen, plastik, metal, gelas, dll.
1.9    KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.      Detergen adalah campuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi.
2.      Bahan utama untuk pembuatan detergen yaitu Surfaktan (surface active agen), Pengatur Busa (Suds Regulator), Builder (Pembentuk), Filler (Pengisi), dan Additives (Zat Tambahan).
3.      Teknik pengolahan detergen dapat dilakukan menggunakan berbagai macam teknik misalnya biologi yaitu dengan bantuan bakteri, koagulasi-flokulasi-flotasi, adsorpsi karbon aktif, lumpur aktif, khlorinasi dan teknik representatif lainnya tergantung dari efektifitas kebutuhan dan efisiensi financial.
Saran
Demikianlah makalah tentang proses pembuatan detergen ini dibuat, untuk mendukung ataupun untuk memperbaiki makalah ini diperlukan saran saran yang bersifat membangun sehingga nantinya makalah ini menjadi lebih bagus dan sempurna.


DAFTAR PUSTAKA
·         Dewi, Erwana.2009.Proses Industri Kimia.Palembang:POLSRI
·         T.M. Cook dan D.J. Cullen. 1986. Industri Operasi Kimia. PT. Gramedia; Jakarta
·         Handojo Lienda,dkk. 1995. Teknologi Kimia. PT.Pradnya Paramita; Jakarta
·         www.wikipedia.org/wiki/sabun


pertanyaan  :
1.                  Dari : Lely meilani (kelompok 6)
Apakah perbedaan mixer dengan blender pada proses pembuatan sabun?
Jawab :
Mixer digunakan untuk  tempat pencampuran antara NaOH (katalis) dengan asam lemak dengan kecepatan yang tinggi sehingga diperoleh campuran yang homogan berbentuk pasta. Sedangkan blender digunakan untuk pencampuran bahan baku dan bahan tambahan (seperti parfum, dan TCC) dengan kecepatan rendah sehingga diperoleh campuran yang merata.
2.                  Dari : Nyayu Dwi Sugiarti R (kelompok 3)
Apakah ada zat lain selain NaCl yang digunakan untuk pencucian pada proses pembuatan sabun dan deterjen, dan dimanakah terjadinya?
Jawab :
NaCl dalam pembuatan sabun dan deterjen digunakan untuk memisahkan sisa gliserol dalam sabun  dengan suhu 850C, dimana pencucian ini diakukan untuk memperoleh produk yang sesuai. Proses ini disebut dengan washing process.

3.                  Dari : Emilda Octarina (kelompok 6)
Apa fungsi dari zat tambahan pada pembuatan sabun?
Jawab
Bahan tambahan dan fungsinya :
Mencegah korosi : Natrium Silicate
Anti redeposisi agent : Carboxyl Methyl Cellulose (CMC)
Menghambat noda,bercak : Benzotriazole
Pemutih (mengubah ultraviolet menjadi cahaya yang terlihat) : bluings, dari jenis Peroxygen
Anti microbial agent : carbonilides, salycyl anilides
Memudahkan penghilangan noda : enzym
Estetika : parfum


4.                  Dari : Randi Mahardika (kelompok 12)
apa saja katalis yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun dan uap apa yang keluar dari steam flash tank ?
jawab :
katalis yang dapat digunakan yaitu :
Pada umumnya, alkali yang digunakan dalam pembuatan sabun pada umumnya hanya NaOH dan KOH, namun kadang juga menggunakan NH4OH. Sabun yang dibuat dengan NaOH lebih lambat larut dalam air dibandingkan dengan sabun yang dibuat dengan KOH. Sabun yang terbuat dari alkali kuat (NaOH, KOH) mempunyai nilai pH antara 9,0 sampai 10,8 sedangkan sabun yang terbuat dari alkali lemah (NH4OH) akan mempunyai nilai pH yang lebih rendah yaitu 8,0 sampai 9,5.

5.                  Dari : Yeyen Armelianti (kelompok 1)
Apakah yang dimaksud dengan reaksi saponifikasi dan bagaimana reaksi saponifikasi yang terjadi pada proses pembuatan sabun dan detergen ?
Jawab :

Pengertian Saponifikasi (saponification) adalah reaksi yang terjadi ketika minyak / lemak dicampur dengan larutan alkali. Ada dua produk yang dihasilkan dalam proses ini, yaitu Sabun dan Gliserin. Sabun dibuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan dari minyak. Gugus induk lemak disebut fatty acids yang terdiri dari rantai hidrokarbon panjang (C-12 sampai C18) yang berikatan membentuk gugus karboksil. Asam lemak rantai pendek jarang digunakan karena menghasilkan sedikit busa. Reaksi saponifikasi tidak lain adalah hidrolisis basa suatu ester dengan alkali (NaOH, KOH).
Reaksi kimia saponifikasi yaitu :
R.COO.H + MOH à RCOO.M + H2O
Diman R adalah alkil dari CH3 dan M adalah Na dari katalis NaOH

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar